img
© Saddam Husein, Konservasi Indonesia
Publikasi

Siaran Pers

Sumatera Utara Siap Kelola 240.985,21 Hektare Ekosistem Batang Toru

img

Medan, 24 Juni 2025 – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara resmi mengumumkan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Perlindungan dan Pengelolaan Terpadu Ekosistem Batang Toru, yang akan menginisiasi pengelolaan kolaboratif ekosistem seluas 240.985,21 hektare tersebut. Kawasan ini membentang di tiga kabupaten dan merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Sumatera. 

Pembentukan Pokja ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi multipihak untuk menyusun dan mengimplementasikan rencana aksi bersama, demi perlindungan ekosistem yang menjadi habitat utama orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis)harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) serta spesies endemik lainnya. 

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Provinsi Sumatera Utara, H. Surya, mewakili Gubernur Bobby Nasution, ditegaskan bahwa Pemerintah Provinsi dan Kabupaten berkomitmen penuh menjaga Ekosistem Batang Toru sebagai warisan ekologis global. 

“Kelestarian Ekosistem Batang Toru bergantung pada kolaborasi semua pihak. Pembentukan Pokja ini selaras dengan visi pembangunan Sumatera Utara untuk menjadi provinsi yang unggul, maju, adil, dan berkelanjutan. Pokja diharapkan menjadi wadah konsolidasi antara konservasi dan pembangunan hijau,” ujar Surya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sumatra UtaraYuliani Siregar, menambahkan bahwa Pokja akan berperan sebagai motor penggerak dalam menyelaraskan kebijakan dan program lintas sektor, untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di wilayah ini. 

“DLHK sebagai ketua Pokja akan memastikan setiap kebijakan mendukung pelestarian ekosistem. Kami mengajak semua pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, untuk bersinergi dalam penyusunan dan pelaksanaan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Terpadu Ekosistem Batang Toru yang akan disusun bersama-sama,” ujar Yuliani.   

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan, Dr. Satyawan Pudyatmoko, yang diwakili oleh Direktur Kawasan Konservasi, Sapto Aji Prabowo. Beliau menyampaikan bahwa strategi nasional dalam pengelolaan ekosistem penting di Indonesia berbasis pada pendekatan nilai konservasi tinggi dan kemitraan lintas sektor. Dalam konteks ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara juga mengambil peran strategis sebagai mitra utama dalam pengelolaan kawasan konservasi yang termasuk dalam Ekosistem Batang Toru. 

Sebagai salah satu wilayah yang termasuk dalam Ekosistem Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan menunjukkan komitmen nyata dalam menyelaraskan kebijakan pembangunan daerah dengan upaya konservasi.

“Kami telah memasukkan upaya perlindungan kawasan Batang Toru dalam RPJMD Tapanuli Selatan 2025–2029. Kerja sama dengan mitra-mitra pembangunan telah menghasilkan kebijakan konkret, termasuk Peraturan Bupati tentang koridor satwa liar,” jelas Chairul Rizal Lubis, Kepala Bappeda Kabupaten Tapanuli Selatan. 

Langkah progresif Kabupaten Tapanuli Selatan dalam mengintegrasikan konservasi ke dalam dokumen perencanaan daerah menjadi contoh penting sinergi antara pelestarian lingkungan dan pembangunan inklusif. 

Sementara itu, Wira Ardana, Sundaland Landscape Manager dari Konservasi Indonesia, menyoroti pentingnya pendanaan jangka panjang serta pemanfaatan data keanekaragaman hayati terkini sebagai fondasi dalam penyusunan kebijakan.

“Konservasi Indonesia sebagai mitra Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendukung upaya penguatan tata kelola Ekosistem Batang Toru. Bentuk dukungan yang diberikan salah satunya adalah terlibat aktif bersama pemerintah dan mitra pembangunan dalam menyusun Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Terpadu, termasuk mekanisme pembiayaan jangka panjang bagi pelestarian ekosistem,” ujar Wira.

Dukungan dari kalangan akademisi juga terlihat melalui berbagai inovasi dan riset yang telah dilakukan Universitas Sumatera Utara bersama organisasi masyarakat sipil, dalam upaya memperkuat basis ilmiah perlindungan ekosistem ini. 

Sebagai bagian dari kegiatan, diselenggarakan sesi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan anggota Pokja, guna menyusun rencana aksi tematik sesuai bidang kerja masing-masing.

Inisiatif ini diharapkan menjadi langkah awal menuju aksi nyata perlindungan Ekosistem Batang yang kolaboratif, adil, dan berkelanjutan. Sebagai kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi dan sumber penghidupan masyarakat, perlindungan Ekosistem Batang Toru menjadi bagian integral dari visi pembangunan “Sumut Bermartabat dan Berkelanjutan”.

Tags : Siaran Press

0
0 Komentar
Login untuk memberikan komentar.
Update Terbaru
img
Kajian Terbaru Dorong...
09 September 2025
0